Dinamika Pertumbuhan Kab. Buton Utara di Tinjau dari aspek Indeks Pembangunan Manusia th 2008

Posted: Agustus 19, 2009 in Uncategorized

Suparjo§ Sabri§ Iskandar Kasim§ Syahrir Wahab§

ABSTRAK

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan salah satu cara untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat suatu wilayah. IPM mengukur 3 dimensi dasar pembangunan manusia yaitu lamanya hidup, pengetahuan dan standar hidup yang layak. Beberapa variabel yang terkait dengan IPM adalah kependudukan, pendidikan, kesehatan, pengeluaran per kapita dan ketenagakerjaan.  Objek penelitian ini adalah Kabupaten Buton Utara yang terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara. Dari hasil analisis diketahui bahwa Kabupaten Buton Utara sampai tahun 2007 berada pada tingkat status pembangunan manusia menengah bawah.

LATAR BELAKANG

Pemerintah, baik secara nasional maupun regional di tingkat provinsi dan di tingkat kabupaten/ kota, dalam pelaksanaan pembangunannya berorientasi dan bahkan terfokus pada upaya mencapai peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Salah satu cara mengukur tingkat kemajuan pembangunan kesejahteraan masarakat suatu wilayah nasional, provinsi maupun di tingkat kabupaten/ kota, adalah dengan menghitung/ mengukur tingkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Proses pembangunan semacam ini merupakan suatu usaha jangka panjang yang memerlukan data penunjang untuk setiap tahap dan komponennya. Oleh karena kebutuhan yang sifatnya terus menerus dan dalam segala bidang itulah usaha pembangunan dibarengi juga dengan kebutuhan untuk setiap kali menyempurnakan dan mengembangkan data statistik yang ada.

Human Development Report (Laporan Pembangunan Manusia) yang pertama pada tahun 1990, mendefinisikan pembangunan manusia sebagai suatu proses untuk membuat manusia mampu memiliki lebih banyak pilihan.

§Mahasiswa Program Studi Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Universitas Haluoleo Kendari

Pendapatan, kesehatan, pendidikan, lingkungan fisik yang baik dan kebebasan untuk bertindak adalah pilihan yang dimiliki manusia yang juga merupakan hal-hal yang penting dalam kehidupan.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

IPM mengukur pencapaian keseluruhan dari suatu negara dalam tiga dimensi dasar pembangunan manusia, yaitu lamanya hidup, pengetahuan dan suatu standar hidup yang layak. Ketiganya diukur dengan angka harapan hidup, pencapaian pendidikan dan pendapatan per kapita yang telah disesuaikan menjadi paritas daya beli. IPM adalah suatu ringkasan dan bukan suatu ukuran komprehensif dari pembangunan manusia.

Diagram penghitungan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

IPM

DIMENSI

Umur panjang

Dan sehat

Pengetahuan

Kehidupan

Yang layak

INDIKATOR

Angka harapan

hidup Pada saat lahir

Angka melek huruf  (lit)

Indeks Lit

Rata-rata

Lama sekolah (MYS)

Indeks MYS

Pengeluaran per kapita riil yang disesuaikan (PPP Rupiah)

INDEKS

DIMENSI

Indeks harapan hidup

Indeks pendidikan

Indeks pendapatan

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM)

TUJUAN

Penulisan makalah ini bertujuan untuk :

  1. Mengetahui tingkat kemajuan pembangunan kesejahteraan masyarakat suatu wilayah baik nasional, provinsi maupun di tingkat kabupaten/ kota.
  2. Mengetahui tingkat kemajuan pembangunan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Buton Utara ditinjau dari aspek Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
  3. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara umumnya dan Kabupaten Buton Utara khususnya terhadap dimensi pembangunan manusia dari berbagai aspek.

MANFAAT

Manfaat yang paling utama dapat diperoleh melalui penelitian ini adalah dapat mengetahui posisi Kabupaten Buton Utara dalam hal pembangunan manusianya diantara daerah-daerah lain.

TINJAUAN PUSTAKA

Beberapa variabel yang terkait dengan IPM, antara lain :

  1. 1. Kependudukan.

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2007 penduduk Kabupaten Buton Utara berjumlah 49 100 jiwa yang terdiri dari penduduk Laki-laki sebanyak 24 820 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 24 280 jiwa.

  1. 2. Pendidikan.

Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi setiap warga negara, dimana keberhasilan pembangunan suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan penduduknya. Pendidikan merupakan pembentuk watak bangsa di segala bidang kehidupan, khususnya dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia dalam pembangunan dan ekonomi.

Upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan meningkatkan penyediaan fasilitas-fasilitas dan tenaga pendidik dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Dengan tersedianya fasilitas pendidikan dan para pendidik yang berkualitas, diharapkan setiap warga dapat menikmati pendidikan yang layak.

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2007, jumlah penduduk Kabupaten Buton Utara usia 10 tahun ke atas ada sekitar 33,93 persen yang tidak memiliki ijazah, dengan kata lain penduduk tersebut tidak/belum berhasil menamatkan pelajaran pada suatu  jenjang pendidikan formal, baik dari sekolah swasta maupun sekolah negeri. Apabila dibedakan menurut jenis kelamin, maka sebanyak 31,13 persen penduduk laki-laki yang tidak/belum memiliki ijazah dan penduduk perempuan yang tidak/belum memiliki ijazah jumlahnya lebih besar yaitu 36,79 persen.

Angka Partisipasi Sekolah (APS)

Salah satu cermin keberhasilan pendidikan adalah dengan melihat angka partisipasi sekolah, yaitu proporsi dari keseluruhan penduduk dari berbagai kelompok usia tertentu (7-12; 13-15; 16-18; dan 19-24) yang masih duduk di bangku sekolah.

Dari angka ini bisa dilihat penduduk pada usia jenjang pendidikan tertentu apakah masih sekolah atau tidak. Sesuai dengan program pendidikan yang berlaku, maka angka partisipasi sekolah dilihat menurut kelompok usia 7 – 12 tahun (usia anak untuk bersekolah di SD), kelompok usia 13 – 15 tahun (usia anak untuk sekolah di SLTP), kelompok usia 16 – 18 tahun (usia anak untuk sekolah di SLTA), dan kelompok usia 19 – 24 tahun (usia anak untuk kuliah di perguruan tinggi).

Penduduk usia 7 – 12 tahun di Kabupaten Buton Utara yang masih sekolah sebesar 95,55 persen, sedangkan yang tidak/belum sekolah dan yang tidak sekolah lagi masing-masing sebanyak 2,22 persen dan 2,23 persen. Apabila dikaitkan dengan program wajib belajar 9 tahun dimana anak usia 7 – 12 tahun harus mengikuti program pendidikan, maka di Kabupaten Buton Utara masih terdapat 4,45 persen anak yang belum/tidak mengikuti pendidikan. Tentunya hal ini perlu menjadi perhatian pihak yang berkompeten dimana diharapkan tidak akan ada lagi anak usia 7 – 12 tahun yang tidak bersekolah.

Melek Huruf dan Buta Huruf

Seperti diketahui bahwa salah satu indikator output penting dari pendidikan adalah angka melek huruf dewasa dan rata-rata lama sekolah. Monitoring pencapaian pendidikan antara lain dapat dilihat dari angka melek huruf penduduk usia 10 tahun ke atas.

Hasil Susenas 2007 menunjukkan bahwa angka buta huruf penduduk usia 10 tahun ke atas Kabupaten Buton Utara masih relatif tinggi yaitu sekitar 10,51 persen. Angka ini dapat memberikan gambaran bahwa pencapaian pendidikan di Kabupaten Buton Utara masih perlu terus ditingkatkan dengan meningkatkan angka melek huruf penduduk dewasa atau dapat menekan penduduk yang buta huruf.

  1. 3. Kesehatan.

Seperti diketahui bahwa salah satu komponen utama dalam penghitungan IPM adalah lamanya hidup. Kemampuan untuk hidup lebih lama diukur dengan indikator harapan hidup pada saat lahir. Banyak hal yang berpengaruh terhadap umur harapan hidup, antara lain angka kematian bayi, angka kematian balita, angka kematian ibu dan yang tak kalah pentingnya adalah status gizi baik anak-anak maupun kelompok ibu-ibu usia 15-49 tahun. Mengingat besarnya resiko seorang ibu dalam melahirkan seorang anak, maka sangat diperlukan adanya kemudahan untuk akses ke pelayanan  kesehatan terutama pada saat kelahiran dengan resiko tinggi.

  1. 4. Pengeluaran Perkapita

Pengeluaran perkapita merupakan salah satu komponen dalam perhitungan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Komponen pengeluaran terbagi atas pengeluaran untuk makanan dan pengeluaran untuk non makanan.

Hasil Susenas 2007 terlihat bahwa pengeluaran perkapita penduduk Kabupaten Buton Utara sebanyak lebih dari 50 persen berada pada golongan pengeluaran Rp.150.000 – Rp.199.999 dan Rp.200.000 – Rp.299.999 yaitu masing-masing 33,52 persen dan 33,88 persen.

  1. 5. Ketenagakerjaan

Masalah ketenagakerjaan di tanah air merupakan suatu hal penting yang harus ditangani dengan sungguh-sungguh. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk menjadikan jumlah angkatan kerja kian meningkat. Manakala tingginya angkatan kerja tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, dengan kata lain mereka tidak dapat tertampung dalam pasar tenaga kerja maka akan mengakibatkan bertambahnya jumlah pengangguran.

Berdasarkan definisi ketenagakerjaan penduduk usia 10 tahun ke atas dapat dikategorikan kedalam Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja. Seperti terlihat dari tabel 16, bahwa angkatan kerja di Kabupaten Buton Utara yang bekerja 85,48 persen berarti yang tidak bekerja (menganggur) sebanyak 14,52 persen.

Terdapat perbedaan mengenai penduduk yang bekerja dan menganggur antara penduduk laki-laki dan perempuan, dimana persentase penduduk perempuan yang menganggur lebih dua kali lipat dibanding laki-laki. Tercatat penduduk laki-laki yang menganggur sebanyak 9,30 persen sedangkan penduduk perempuan yang menganggur sebanyak 21,12 persen.

LANDASAN TEORI

Proses pembangunan manusia berjalan terus menerus seiring dengan berjalannya waktu. Paling tidak tujuan akhir dari pembangunan manusia adalah kesejahteraan dari masyarakat itu sendiri. Ada banyak cara untuk mencapai pembangunan manusia beberapa diantaranya adalah dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan standar hidup, mengurangi kemiskinan, meningkatkan anggaran pendidikan, meningkatkan anggaran kesehatan, dan berbagai program lainnya.

Perlu pula menjadi perhatian kita semua bahwa pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia tidak berjalan sendiri akan tetapi tergantung mutu distribusi pendapatan dan tergantung pula prioritas belanja pemerintah.

sinergi

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah indeks komposit yang disusun dari tiga indikator : lama hidup yang diukur dengan angka harapan hidup ketika lahir; pendidikan yang diukur berdasarkan rata-rata lama sekolah (rata-rata jumlah tahun yang telah dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas di seluruh jenjang pendidikan formal yang dijalani) dan angka melek huruf (persentase dari penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis huruf Latin atau lainnya terhadap jumlah penduduk usia 15 tahun atau lebih); dan standar hidup yang diukur dengan pengeluaran per kapita (PPP- purchasing power parity/ paritas daya beli dalam rupiah).

Dimensi

Indikator

Indeks Dimensi

Umur Panjang dan sehat Angka harapan hidup pada saat lahir (e0) Indeks harapan hidup à Indeks X1

Pengetahuan

  1. Angka melek huruf (AMH)
  2. Rata-rata lama sekolah (MYS)
Indeks pendidikan à Indeks X2

Kehidupan yang layak

Pengeluaran per kapita riil yang disesuaikan (PPP Rupiah) Indeks Pendapatan à Indeks X3

Indeks ini merupakan rata-rata sederhana dari ketiga komponen tersebut di atas.

IPM = 1/3   [Indeks X1Indeks X2 +   Indeks X3]

dimana :

X1 =  indeks lamanya hidup

X2 =  indeks tingkat pendidikan yang dirumuskan sebagai berikut:

X2 = 1/3   X21 +          2/3    X22

dimana :

X21 =    rata-rata lamanya sekolah

X22 =    angka melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas

X3 = indeks tingkat kehidupan yang layak.

Penghitungan indeks dari masing-masing indikator tersebut adalah :

Indeks X(i,j) =

X(i,j) –  X(i-min)

X(i-max) –  X(i-min)

dimana :

X(i,j) =    indikator ke-i dari daerah j

X(i-min) =    nilai minimum dari Xi

X(i-max) =    nilai maksimum dari Xi

Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan indeks-indeks ini. Pertama, lebih dari sekedar mengukur pendapatan atau produksi yang dihasilkan suatu daerah, indeks ini mengukur  kesejahteraan manusia secara lebih menyeluruh. Kedua, walaupun demikian indeks ini tidak dengan sendirinya menyajikan gambaran yang utuh. Berbagai indikator pembangunan manusia lainnya masih harus ditambahkan untuk melengkapinya.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Seperti telah dikemukakan di atas bahwa indeks ini disusun dari tiga komponen yaitu lama hidup, tingkat pengetahuan, dan standar hidup yang layak. Dengan demikian banyak sekali variabel-variabel yang mempengaruhi dari masing-masing komponen. Seperti misalnya : lama hidup yang diukur dengan angka harapan hidup waktu lahir, komponen ini sangat dipengaruhi oleh variabel-variabel kesehatan seperti angka kematian bayi, angka kematian ibu melahirkan, kondisi gizi dan sebagainya.

Hal lain adalah karena indeks ini sudah merupakan angka yang standar, sehingga dari angka ini dapat dibandingkan dengan angka yang sama untuk wilayah/ daerah lain. Atau dapat dikatakan, dengan menghitung IPM Kabupaten Buton Utara kita bisa mengetahui posisi Kabupaten Buton Utara dalam hal pembangunan manusianya diantara daerah-daerah yang lain.

Kriteria Tingkatan Status Pembangunan Manusia

Kriteria

Status Pembangunan Manusia

IPM < 50

50 £ IPM < 66

66 £ IPM < 80

IPM ³ 80

Rendah

Menengah Bawah

Menengah Atas

Tinggi

Sumber : Dikutip dari Publikasi “Pembangunan Manusia dan Kesetaraan Gender: Peta dan Disparitas Pencapaian Antar Wilayah Tahun 2002

Tabel :  IPM  Kab. Buton Utara Tahun 2005 dan Tahun 2007

U r a i a n

2005

2007

Harapan Hidup (tahun)

Angka Melek Huruf ( persen)

Rata-rata Lama Sekolah (tahun)

Pengeluaran riiil per kapita disesuai kan (Ribuan Rupiah)

IPM

65,4

85,0

7,0

598,4

64,9

65,6

87,4

7,2

600,5

65,8

Sumber: Diolah kembali

Berdasarkan teknik penghitungan di atas diperoleh Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Buton Utara tahun 2007 adalah 65,8 dari  angka melek huruf penduduk dewasa sebesar 87,4 persen, dan rata-rata lama sekolah 7,2 tahun. Sementara  angka harapan hidup Kabupaten Buton Utara pada tahun yang sama adalah rata-rata 65,6 tahun.  Nilai IPM Kabupaten Buton Utara tersebut berada pada tingkat status pembangunan manusia menengah bawah.

Berdasarkan data dan juga hasil perhitungan IPM tampaknya banyak hal yang harus ditingkatkan di Kabupaten Buton Utara terutama sekali dalam hal dimensi pembangunan manusia yaitu aspek kesehatan, pendidikan (lama sekolah dan melek huruf), dan juga peningkatan pertumbuhan ekonomi sekaligus aspek distribusi pendapatannya.

Sebagai perbandingan, berikut disajikan angka IPM Kabupaten/Kota di Sulawesi Tenggara  keadaan tahun 2005.

Tabel: Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Komponennya Menurut Provinsi/Kabupaten/Kota, Tahun 2005

Provinsi/

Kabupaten/

Kota

Harapan Hidup (tahun)

Angka Melek Huruf (persen)

Rata-rata lama sekolah (tahun)

Pengeluaran riil per kapita yg disesuaikan (000 Rp)

IPM

Peringkat IPM*)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Sulawesi Tenggara

01.Buton

02.Buton Utara

03.Konawe

04.Kolaka

05.Konawe Selatan

06.Bombana

07. Wakatobi

08.Kolaka Utara

71.Kota Kendari

72. Kota Bau-Bau

66,8

67,1

65,4

66,0

65,6

66,9

66,7

67,0

65,4

68,4

69,0

91,3

85,7

87,4

94,0

93,1

94,1

85,3

84,4

92,3

97,3

95,0

7,6

6,1

7,2

7,6

7,7

7,6

5,9

6,5

7,4

10,6

9,4

598,9

596,5

598,4

587,9

617,8

591,1

585,0

576,4

604,0

617,6

591,9

67,5

65,2

64,9

66,8

68,8

67,6

63,8

63,0

67,2

73,4

70,6

24

362

369

308

220

268

391

404

288

66

182

Sumber: BPS, DAU Tahun 2007.

*) Peringkat Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia

KESIMPULAN

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan salah satu cara untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat suatu wilayah. IPM mengukur 3 dimensi dasar pembangunan manusia yaitu lamanya hidup, pengetahuan dan standar hidup yang layak. Beberapa variabel yang terkait dengan IPM adalah kependudukan, pendidikan, kesehatan, pengeluaran per kapita dan ketenagakerjaan.

Dari hasil analisis diketahui bahwa IPM Kabupaten Buton Utara sampai tahun 2007 adalah 65,8 yang berada pada tingkat status pembangunan manusia menengah bawah. Sedangkan IPM Provinsi Sulawesi Tenggara pada Tahun 2005 berada pada urutan ke-24 dari seluruh provinsi di Indonesia.

DAFTAR  PUSTAKA

______, Pembangunan Manusia dan Kesetaraan Gender: Peta dan Disparitas Pencapaian Antar Wilayah Tahun 2002

______, BPS, Sultra Dalam Angka Tahun 2007

______, BPS, DAU  Tahun 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s