INDUSTRI TAMBANG : MENGUNTUNGKAN ATAU MERUGIKAN

Posted: Januari 14, 2011 in Uncategorized

Sudah lebih dari 4 dekade umur industry pertambangan mineral di negeri ini telah gagal membuktikan mitosnya menjadi penopang perekonomian Indonesia, apalagi untuk mensejahterakan penduduk local. Nilai tambahnya pun sangat rendah karena bahan tambang di ekspor dalam bentuk bahan mentah. Potret kegagalan ini tak dapat terbantahkan saat sector ini juga gagal menunjukan tanggung jawabnya terhadap kerusakan lingkungan.

Lalu mengapa pemerintah berkeinginan menjadikan Sultra sebagai pusat industry pertambangan nasional???. Menurut Kepala Bidang sumber daya mineral Dinas ESDM Sultra Burhanudin, wilayah Sulawesi tenggara kaya akan potensi sumber daya tambang. Hampir seluruh wilayah kabupaten Kota memiliki potensi tambang. Dan jika ini dikelola baik, maka akan mendatangkan keuntungan besar bagi daerah maupun masyarakat setempat. Namun Burhanudin mengakui kontribusi sector pertambangan selama ini masih minim. Pada tahun 2009 kemarin, kontribusi pendapatan di sector pertambangan hanya 3 koma 5 milyar rupiah. Ini terjadi karena model pengelolaannya yang tidak tertata baik.

Salah satu strategi yang dilakukan untuk mengoptimalkan pendapatan sector pertambangan, Dinas ESDM Sultra sudah menyiapkan satu regulasi yang berbentuk PERDA tentang pengelolaan sumber daya tambang. Perda ini nantinya menjadi alat control pemerintah dalam hal pengelolaan tambang.

Secara politis, keinginan untuk menjadikan Sultra sebagai pusat Industri pertambangan nasional ini belum dikomunikasikan dengan Dewan perwakilan rakyat Sulawesi tenggara. Wakil ketua DPRD Sultra Muhammad Endang mengatakan, rencana pengembangan industry pertambangan nasional mestinya disampaikan kepada anggota DPRD. Meski demikian Muhammad Endang mengingatkan pemerintah Sultra untuk lebih memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.

Sementara itu menurut Direktur eksekutif WALHI Sultra Hartono, pemanfaatan potensi sumber daya tambang untuk kesejahteraan masyarakat hanyalah mitos yang tidak bisa dibuktikan. Banyak daerah-daerah penghasil tambang di Indonesia justru mengalami kesulitan. Salah satu contoh aktivitas pertambangan Nikel di kecamatan Pomalaa Kolaka.

Selama ini aktivitas pertambangan di dalam dan luar Sultra tidak hanya membuat masyarakat sekitar menderita, tetapi juga merusak ekosistem kawasan hutan, karena perusahaan tambang yang ada, tidak mampu memperlihatkan tanggung jawabnya atas kerusakan lingkungan yang terjadi.

Hal berbeda di sampaikan humas PT Panca Logam Makmur Lukman Azis Kurniawan yang mengatakan, perusahaan tambang emas mereka yang beraktifitas di kabupaten Bombana punya komitmen dan tanggung jawab besar untuk memulihkan kawasan-kawasan tambang yang sudah mereka kelola. Terbukti baru sekitar satu tahun beraktivitas, mereka sudah melakukan penghijauan diareal tambang, bahkan beberapa kawasan lainnya ditaburi bibit ikan untuk membuktikan tidak adanya penggunaan zat kimia berbahaya seperti mercuri.

Tak hanya itu, tanggung jawab social kepada warga local juga dijalankan melalui perekrutan karyawan. Dari sekitar seribuan lebih karyawan PT Panca Logam Makmur, sekitar 70 hingga 80 persen adalah warga local Sulawesi tenggara. Lalu bagaimana dengan kondisi yang terjadi sekarang?? Menurut sekretaris Dinas Pertanian Sultra Antoni Balaka, secara umum aktivitas perusahaan tambang yang ada selama ini memang belum berdampak pada sector pertanian, akan tetapi bila sector pertambangan di eksploitasi secara besar-besaran, maka keberadaan sector pertanian seperti sawah petani akan terancam akibat berkurangnya kebutuhan air.

Mimpi Pemerintah Sultra akan kesejahteraan dalam pengelolaan sector pertambangan ini, tidak bisa hanya dilihat dari sisi jumlah pendapatan yang diterima pemerintah, tetapi juga memperhitungkan aspek social dan lingkungannya. Karena tidak sedikit pula anggaran yang mesti di keluarkan pemerintah untuk sekedar merehabilitasi sejumlah lahan kritis yang ditinggalkan begitu saja.

Kekhawatiran ini sudah berulang kali di sampaikan LSM dalam berbagai work shop atau diskusi tentang usul revisi tata ruang wilayah provinsi. Aktivis Walhi Sultra beranggapan, usul revisi tata ruang wilayah provinsi yang sudah memasuki tahapan pengkajian akan menjadi pintu masuk memuluskan rencana menjadikan Sultra sebagai pusat Industri pertambangan nasional.

Penjelasan berbeda disampaikan kepala Dinas Kehutanan Sultra Amal Jaya, menurutnya, semangat revisi tata ruang wilayah provinsi yang di usulkan sekitar 300 ribu hektar lebih hanya untuk memberikan kepastian hokum atas banyaknya kawasan permukiman penduduk yang berada di kawasan hutan.

Terlepas dari benar tidaknya argumentasi tersebut, yang pasti bahwa sebagian besar kawasan hutan di Sultra menyimpan banyak potensi sumber daya tambang. Itu artinya, hampir seluruh kawasan hutan yang di usulkan dalam dokumen revisi tata ruang wilayah provinsi memiliki deposit tambang. Berdasarkan data Dinas ESDM Sultra, kini sudah terdapat 340 lebih izin KP yang diterbitkan pemerintah kabupaten, yang sebagian besar konsesinya berada di dalam kawasan konservasi, kawasan hutan produksi dan kawasan hutan lindung.

Masyarakat Sulawesi tenggara pasti sepakat dengan niat baik pemerintah untuk menciptakan kesejahteraan, karena itulah yang diharapkan.  Akan tetapi, bayang-bayang gagalnya industry pertambangan yang terjadi dihampir seluruh daerah, telah membuat masyarakat kita menjadi paranoid, sebab umumnya masyarakat local tidak hanya menderita saat pertambangan beroperasi, tetapi juga mendapat warisan kerusakan lingkungan. Dengan permasalahan ini, pemerintah Sultra harusnya mengkaji kembali rencana ini, setidaknya menunda keinginan tersebut sampai benar-benar kita punya kemampuan untuk mengaturnya.

SALAM LESTARI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s