POTRET BURAM PASAR TRADISIONAL KENDARI

Posted: Februari 16, 2011 in Uncategorized

Sejarah berdirinya pasar tradisional di kota Kendari hingga kini belum menemukan fungsi ideal seperti layaknya pasar tradisional lain yang ada di sejumlah daerah di Indonesia. Berdasarkan data Kantor Berita Swara Kendari, sedikitnya terdapat 13 pasar yang menjadi pusat transaksi jual beli di wilayah kota Kendari. Namun dari jumlah ini terdapat dua pasar illegal atau tidak resmi dan dua lokasi pasar yang sudah lama di tinggalkan pedagang, yakni pasar purirano dan pasar punggolaka.

Sejak kota Kendari masih bernaung di wilayah administrasi kabupaten Kendari, sudah tersedia 3 pasar yang dijadikan pusat transaksi jual beli masyarakat, yakni pasar sentral wua-wua, pasar mandonga dan pasar sentral kota.  Jika dilihat dari posisi atau letaknya, terlihat jelas bahwa ketiga pasar ini di bangun mengikuti rute atau jalur transportasi angkutan umum, dengan harapan pasar yang sudah di bangun bisa berkembang karena akses warga semakin mudah. Lantas bagaimana dengan kondisi pasar yang di bangun tanpa memperhitungan akses transportasi pembeli??? Inilah yang menjadi benang kusut keberadaan sejumlah pasar yang ada di kota Kendari, sebut saja pasar Purirano yang di bangun pemerintah kota di masa pemerintahan Masyur Masie Abunawas. Sejak di resmikan sekitar tahun 2002 lalu, transaksi jual beli di pasar ini hanya berlansung beberapa lama, dan selanjutnya redup tanpa ada aktivitas.

Matinya aktivitas pasar purirano salah satunya di picu minimnya akses transportasi kendaraan menuju pasar, kondisi ini di perparah terbatasnya pilihan dan jumlah barang yang disediakan, sehingga sebagian besar warga lebih tertarik mengunjungi pasar sentral kota yang sudah lebih dulu di bangun. Persoalan ini kembali terulang tat kala pemerintah kota membangun pasar Punggolaka sebagai solusi atas banyaknya pedagang lawata yang terlantar pasca pemindahan pedagang di pasar mall dan pasar basah mandonga, namun lagi-lagi, karena sulitnya akses transportasi membuat keberadaan pasar punggolaka berubah dari transaksi jual beli menjadi kamar kos-kosan.

Sikap acuh pemerintah kota terhadap tuntutan pedagang untuk di tempatkan di kawasan yang mudah di akses memaksa pedagang kaki lima menggelar lapak dagangan di bahu jalan. Pemandangan ini nyata terlihat di sepanjang jalan taman suropati dan jalan lasandara mandonga. Mereka yang berjualan di bahu jalan sangat menyadari jika lokasi penjualan mereka adalah illegal dan rentan terjaring razia petugas trantib, namun upaya itu tetap saja dilakukan karena tekanan ekonomi. Sebagai solusinya, pemerintah kota meng-intenskan peran satuan Polisi Pamong praja untuk melakukan penertiban. Tidak jarang benturan pedagang dengan sat pol PP hampir di temukan setiap saat, bahkan benturan atas upaya penertiban pedagang kaki lima telah membuat dua kali kantor wali kota Kendari menjadi sasaran kemarahan warga dan mahasiswa yang memprotes penertiban. Rumitnya persoalan pasar dan keberadaan pedagang kaki lima yang tak kunjung juga tuntas, membuat Walikota Kendari Asrun membangun kawasan penjualan PKL atau Paddy’s Market yang berlokasi di jalan lawata. Pasar yang di bangun dengan dana 14 milyaran rupiah ini di harapkan bisa meminimalisir keberadaan PKL yang berjualan di bahu jalan. Namun pasca peresmian tanggal 18 Desember lalu, nasib pasar PKL atau Paddy’s Market tak jauh berbeda dengan nasib pasar Purirano dan Pasar Punggolaka yang di tinggalkan pedagang. Dari sekitar seribu lebih lapak penjualan yang di sediakan pemerintah, hanya terisi kurang dari 300 pedagang.

Lalu mengapa para pedagang kaki lima, enggan memanfaatkan fasilitas pasar yang sudah di sediakan pemerintah kota, apakah lokasi penjualan yang di sediakan tidak cukup memadai untuk mereka tempati, atau sarana transportasinya yang tidak mendukung.

Jika melihat posisi Paddy’s Market di jalan lawata, memang akses transportasi terbilang sulit di jangkau, sementara kebijakan pengalihan trayek angkot jalur satu A yang di tentukan Dinas Perhubungan kota, tidak berjalan efektif seperti yang di harapkan masyarakat. Kondisi ini mengakibatkan dagangan pedagang tidak laku akibat sepinya pembeli. Hal ini di perparah dengan volume penjualan pedagang yang terbatas dalam jumlah kecil. Tidak heran konsumen di kota Kendari cenderung membeli sayur mayur melalui pedagang keliling ketimbang harus berbelanja di pasar PKL.

Di tengah kesulitan pedagang PKL atas minimnya pembeli, pemerintah kota Kendari belum juga mencari solusi tepat untuk mengoptimalkan fungsi pasar PKL, tetapi sebaliknya, pemerintah kota melalui Dinas pendapatan selaku instansi teknis yang di tugaskan mengelola pasar Paddy’s Market, justru membuat kebijakan yang memperparah kesulitan pedagang dengan membuat rancangan pungutan retribusi sebesar 100 hingga 200 ribu perbulan kepada para pedagang di kawasan PKL. Gelagat pemerintah kota Kendari ini terkesan hanya memprioritaskan peningkatan target pendapatan asli daerah, tanpa mempertimbangan kemampuan para pedagang. Di sinilah akar permasalahan kedua terjadi.

Dalam pengelolaan pasar tradisional, akses transportasi sangat menentukan berkembang tidaknya sebuah pasar. Jika akses transportasi tidak tersedia memadai, maka nadi ekonomi di pasar tersebut hanya bisa berdenyut sekitar 50 persen, sebaliknya jika akses transportasi sudah tersedia memadai, maka pasar tersebut sudah berkembang 50 persen.

Memang, menuntaskan persoalan pasar tidak semudah membalikan telapak tangan, sebab ada banyak factor yang mempengaruhinya, mulai dari minimnya akses transportasi, hingga besarnya sisipan kepetingan politik, namun terlepas dari persoalan tersebut, pemerintah kota Kendari mestinya sudah memiliki desain pengelolaan pasar yang ideal, agar persoalan pasar dan PKL sebagai pedagang tidak menjadi duri pembangunan daerah.

 

Komentar
  1. […] POTRET BURAM PASAR TRADISIONAL KENDARI « Iskandar Kasim's Blog […]

  2. […] POTRET BURAM PASAR TRADISIONAL KENDARI « Iskandar Kasim's Blog […]

  3. […] POTRET BURAM PASAR TRADISIONAL KENDARI « Iskandar Kasim's Blog […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s