Editorial Terpo…

Posted: Januari 3, 2012 in Uncategorized

Editorial Terporombu, 3 Januari 2012

CAPAIAN PERTUMBUHAN EKONOMI SULTRA TAHUN 2011

DAN PREDIKSI DI TAHUN 2012

Sobat alam, Badan Pusat Statistik BPS provinsi Sulawesi tenggara mencatat pertumbuhan ekonomi Sultra pada tahun 2011 mencapai kisaran angka 8,45 persen atau melampaui pencapaian tahun 2010 sebesar 8,19 persen. Jika di bandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di seluruh provinsi di wilayah Sulawesi, pertumbuhan ekonomi Sultra tahun 2011 berada pada posisi kedua. Pertumbuhan ekonomi Sultra yang mencapai kisaran angka 8,45 persen ini sangat di dukung oleh peran investasi yang semakin besar dengan kontribusi sekitar 5 persen menggantikan kontribusi rumah tangga yang hanya mencapai 3 persen. Selain itu kinerja ekspor juga menunjukan adanya pertumbuhan yang mencapai hamper 2 kali lipat di banding tahun 2010. Meski demikian laju inflasi di Sulawesi tenggara yang di wakili inflasi kota Kendari juga mengalami peningkatan. Dalam kurun waktu Januari hingga bulan November saja, inflasi di kota Kendari tercatat mencapai kisaran angka 4,90 persen. Peningkatan angka inflasi ini terjadi karena meningkatnya permintaan kebutuhan barang khususnya pada hari besar keagamaan.

Secara umum, tingginya angka pertumbuhan ekonomi di Sultra ini tidak tercermin secara berimbang dengan laju pertumbuhan ekonomi yang ada di kabupaten kota. Dari seluruh kabupaten kota di Sultra, hanya kabupaten Kolaka dan Kota Kendari saja yang tercatat sebagai dua daerah kabupaten kota yang paling berkontribusi besar terhapat PDRB Sulawesi tenggara. Di kabupaten Kolaka sendiri peningkatan PDRB lebih banyak di sumbangkan oleh sector pertambangan sementara di kota Kendari, kontribusi PDRBnya lebih besar di sumbangkan oleh sector jasa perhotelan dan restoran.

Angka pertumbuhan ekonomi yang cenderung meningkat dari tahun ketahun ini berdampak pada pengurangan angka kemiskinan di Sultra. Berdasarkan data BPS tahun 2011. Tingkat kemiskinan di Sultra mengalami perbaikan sekitar 3 persen dalan kurun waktu 3 tahun terakhir, namun secara nasional angka kemiskinan di Sultra masih berada pada level yang tinggi yakni sekitar 14,56 persen atau berada di urutan 13 dari 33 provinsi di Indonesia yang memiliki tingkat kemiskinan tertinggi.

Persentase angka kemiskinan yang cukup tinggi ini menjadi satu ironi di tengah melimpahnya potensi sumber daya alam di Sultra. Sector pertanian dan Kelautan perikanan yang menjadi sumber andalan masyarakat Sultra, kontribusinya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir mengalami penurunan, padahal kedua sector ini sangat berpengaruh terhadap penyiapan lapangan kerja. Darri 2 juta lebih penduduk Sultra, sekitar 500 ribu di antaranya hidup dari sector pertanian. Dengan begitu jika kontribusinya kurun waktu 5 tahun terakhir mengalami penurunan maka potensi meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran semakin terbuka lebar. Sementara investasi di sector padat modal seperti pertambangan terus menunjukan angka peningkatan namun kontribusinya terhadap pembukaan lapangan kerja sangat kecil.

Capaian angka pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2011 sebesar 8,45 persen ini, memang bisa saja menjadi prestasi yang di banggakan pemerintah Sultra, tetapi dampak nyata yang di rasakan masyarakat Sultra akibat adanya pertumbuhan ini nyaris tidak kelihatan, sebab pertumbuhan ekonomi yang di ukur dari PDRB tidak bisa di jadikan indicator kesejahteraan masyarakat karena hitungan angka PDRB atau Produk Domestik Regional Bruto sebagian besar adalah akumulasi nilai produksi barang dan jasa yang di wilayah Sultra termasuk di dalamnya adalah investasi, karena Nilai Tukar Petani sebagai cerminan kesejahteraan masyarakat Sultra yang 45 persennya bekerja di sector pertanian berada pada urutan ke 4 terendah dengan nilai di bawah angka 100.

Nilai invetasi yang masuk di wilayah Sultra memang terbilang sangat tinggi dalam beberapa tahun terakhir, namun uang yang harus digunakan keluar wilayah Sultra juga mencapai trilyunan rupiah. Pada tahun 2011 saja. Bank Indonesia Kendari sepanjang tahun 2011 telah menyalurkan uang kartal senilai 2,75 trilyun rupiah, namun dari jumlah tersebut, aliran uang yang masuk hanya mencapai 431 milyar rupiah.

Namun terlepas dari persoalan itu, kini kita mulai melangkah pada tahun 2012. Bank Indonesia Kendari masih memproyeksikan angka pertumbuhan ekonomi Sultra menunjukan angka peningkatan, akan tetapi dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat masih perlu pembuktian. Angka-angka pertumbuhan ekonomi tersebut tidak akan berarti tanpa ada dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.

SALAM LESTARI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s