TELUK KENDARI DIAMBANG KEHANCURAN (Sebuah Refleksi Pada 181 Tahun Lahirnya Kota Kendari)

Posted: Mei 8, 2012 in Uncategorized

Tanggal 9 Mei 2012 ini merupakan moment penting dan paling bersejarah bagi masyarakat kota Kendari, mengingat pada tanggal 9 Mei 1831 seorang berkebangsaan Belanda bernama Vosmajour untuk pertama kalinya menginjakan kaki di pelabuhan teluk Kendari dan menjadikannya sebagai tempat penimbunan barang dari kegiatan perdagangan yang dilakukan masyarakat suku Bajo dan Bugis. Peristiwa inilah kemudian dijadikan sebagai awal terbentuknya Kandai yang kini berubah nama menjadi kota Kendari.

Nama Kendari sendiri untuk pertama kalinya di kenal dengan nama Vormajour Baai atau teluk Vorsmajour, karena keberadaan teluk Kendari inilah, kantor dagang yang di sebut lodge yang muncul dari aktivitas perdagangan masyarakat suku bajo dan bugis di abat ke 19 menjadi hidup.

Jika merunut catatan sejarah yang di tulis vorsmajour maupun informasi dari para pedagang suku bajo dan bugis dahulu, Kendari memang sudah di kenal sebagai kota dagang yang menampung hasil bumi dari kerajaan luwu untuk selanjutnya di kirim ke Sulawesi selatan dan Nusa tenggara. Dimasa pemerintahan kolonial belanda, Kendari sudah menjadi ibukota kewedanan dan ibukota onder afdeling laiwoi. Namun sejalan dengan dinamika perkembangan sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan laut antar pulau yang terus tumbuh dan berkembang, status Kendari berubah menjadi ibukota kabupaten Kendari dalam wilayah provinsi Sulawesi tenggara. Nanti setelah terbitnya undang-undang nomor 13 tahun 1964 tentang pembentukan provinsi Sulawesi tenggara, Kendari di tetapkan sebagai ibukota provinsi Sulawesi tenggara dengan 2 wilayah kecamatan yakni kecamatan Kendari dan Kecamatan Mandonga.

Berselang 14 tahun kemudian, terbit peraturan pemerintah nomor 19 tahun 1978 tentang penetapan Kendari sebagai Kota Administratif dibawah kepemimpinan walikota Haji Mansyur Pamadeng dengan tiga wilayah kecamatan yakni, kecamatan Kendari, mandonga dan poasia. Status kota administrative ini kemudian di tingkatkan menjadi kota madya melalui Undang-undang nomor 6 tahun 1995.

Dari cerita panjang terbentuknya kota Kendari, terlihat jelas bahwa teluk Kendari memiliki peranan yang sangat penting terhadap sejarah aktifitas ekonomi masyarakat, sayang, meningkatnya aktifitas pembangunan yang tidak terkendali mengakibatkan daya dukung teluk Kendari semakin lemah, fungsi ekologis maupun fungsi ekonominya kian redup bahkan kini terancam jadi COMBERAN dan TEMPAT SAMPAH RAKSASA. Lalu mengapa pemerintah kota Kendari terkesan membiarkan terjadinya kerusakan teluk Kendari?  bukankah ancaman kerusakan teluk yang bisa membuatnya HILANG, sama artinya dengan menghilangkan identitas sejarah lahirnya kendari itu sendiri??? Dari data yang ada, laju sedimentasi teluk Kendari terus meningkat hingga mengakibatkan luas dan kedalamannya juga ikut menyusut. Hasil penelitian dosen pasca sarjana Unhalu Marzuki Iswandi tahun 2000 lalu, kedalaman di daerah pinggiran teluk kendari tahun 1960 mencapai 5 meter dengan luas saat itu sekitar 1.675 hektar, namun pada tahun 1995, kedalamannya di daerah pinggiran berkurang tinggal 0 hingga 2 meter, sementara luasnya juga menyusut tinggal 1084 hektar di tahun 2000.  Penyusutan luas dan kedalaman di wilayah teluk ini terus meningkat hingga saat ini. Lalu bagaimana dengan upaya penyedotan lumpur teluk yang sangat dinanti masyarakat sejak di anggarkan dalam APBD? Apakah tetap dilanjutkan atau justru berhenti begitu saja???. atau mengapa program kerja bakti rutin yang di genjot untuk mengejar prestasi adipura sejak tahun 2008 tidak di fokuskan khusus untuk teluk Kendari???

Memang, pemerintah kota boleh saja menepuk dada, karena berhasil menjaga kebersihan lingkungan hingga meraih penghargaan adipura sebanyak 3 kali berturut-turut, tetapi tak bisa dipungkiri kondisi teluk Kendari kita kotor penuh dengan tumpukan sampah.  Pemerintah kita boleh juga berbangga karena berhasil mengelola keuangan daerah dengan baik hingga mendapat opini BPK Wajar Dengan Pengecualian. Pemerintah kota boleh saja memuji diri dan mengumbar angka-angka keberhasilan, tetapi klaim capaian  keberhasilan itu belum cukup untuk mendongrak prestasi kinerja pengelolaan pemerintahan kota Kendari di posisi paling buntut dari 86 kota di Indonesia. Pemerintah kota juga pantas mempublikasikan apresiasi kemendagri yang memberikannya dana insentif sebesar 24 milyar rupiah lebih sebagai pengakuan atas keberhasilan pemerintah kota dalam pengelolaan keuangan, tetapi menjadi hal yang kontradiktif jika pemerintah kota saat ini mempertanyakan indicator penilaian kemendagri yang memposisikannya di peringkat paling buntut. Andai saja, laporan kinerja penyelenggaraan pemerintahan kota Kendari masuk di peringkat 10 besar, mungkin hari ini, media cetak local dan elektronik akan dipenuhi ucapan selamat atas keberhasilan pemerintah, sama dengan respon pemerintah kota di saat kemendagri memberikan dana insentif sebagai apresiasi pengakuan keberhasilan pengelolaan keuangan daerah.

Kini, pemerintah dan masyarakat kota Kendari tengah memperingati hari jadinya yang ke 181 tahun, sebuah peristiwa yang lebih di maknai dengan sebuah kegiatan seremoni melalui pertunjukan hiburan dan publikasi angka-angka keberhasilan pembangunan, namun tanpa disadari, eforia ini cenderung mempertegas capaian semu keberhasilan pembangunan yang dipublikasikan pemerintah kota namun jauh dari display angka-angka realita.  Selamat Ulang tahun Kota Kendari yang ke 181, selamat juga buat masyarakat Kota Kendari yang sudah dewasa dalam meng-analisa dan membedakan antara kesemuan dan kenyataan. Selamat untuk menjadi masyarakat yang mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik dan bermartabat secara budaya …., SEMOGA ! (KANDAR)

SALAM LESTARI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s